Pernah suamiku tanya.
“anak ga tidur ya?
Aku jawab kalau tidur
” kalau anak tidur, trus kenapa rumah masih berantakan? Knp kamu ga beres-beres? Masa gitu aja ga bisa”
Dia hanya bilang sekali itu, tapi membekasnya masyaallah. Hingga kini aku jarang meminta tolong suamiku, takut dibilang engga becus..
Dan aku mulai menyalahkan diriku sendiri.
Merasa insecure.
Kenapa ya? Kenapa aku bego bgt.
Kenapa aku ga bisa? Kenapa? Kenapa?
Lama kemudian, aku mulai sadar. Waktuku tersita untuk rumah tanggaku. Dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Hal yg lumrah, bukan?
Iya hal yg terlihat amat sangat wajar banget.
Tapi…. Selain mengurus rumah tanggaku, aku jg membantu suamiku mencari nafkah. Dari pagi hingga sore. Sambil momong anak, aku sambil mencari rupiah, untuk belanja kebutuhan dapur besok. Yang seharusnya tugas suamiku, aku turut memikulnya
Lebay? Realita.
Lama aku menyadari bahwa ini bukan salahku. Tugasku yg semula tulang rusuk, sudah merangkap menyangga tulang punggung, bahkan tulang kaki, yg kadang diinjak.
Dan lariku…. Menangis… Setidaknya bisa melegakan sesak.
I’m not that stupid.
Aku berharga.
Di tempat yang tepat.
Sering kali aku mendapati diriku, mengalah, menahan lapar, menunggu anak dan suami beres makan, agar bisa makan. Seringkali waktu tidur berkurang karena pekerjaan domestik blm jg selesai.
Aku capek.
Hatiku capek.
Fisikku capek.
Ragaku disini, tapi fikiranku terbagi : besok masak apa? Habis ini apa? Apa yg kurang? Mau usaha apalagi? Modal apa? Anak makan apa? Besok rencana apalagi.