Aku yang seharusnya menjadi tulang rusuk, telah merangkap menjadi tulang punggung. Tak sampai situ, kadang pula berubah menjadi tulang kaki, yang diinjak dan disalahkan. Demi kamu katanya? Selama ini yg aku lakukan demi siapa? Demi dia, demi kita, demi anak-anak. Masyaallah ternyata dosaku sebesar itu, hingga pembalasannya begini.
Aku kira, akan menjadi ratu setelah menikah. Nyatanya status “istri” itu hanya status yang menjadikanku dibawah babu. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, terus bekerja. Tanpa gaji, tanpa nafkah memadai. Tapi aku tetap bahagia. Hingga saatnya aku dijadikan tulang kaki. Disalahkan oleh sosok yg disebut “suami” hanya karena hal sepele, dan menurutnya kurang. Suami yg seharusnya jadi imam, pelindung, pemberi kebahagiaan, yang seharusnya memberi hak ku. Padahal aku telah membantu sebagian kewajibannya yg bukan kewajibanku. Apakah aku tak boleh mendapatkan hakku? Untuk bahagia, terlindungi, terhindar dari kata cemas, dan rendah diri.